Wednesday, September 11, 2019

YAKOBUS 3:7-2

YAKOBUS 3:7-2
MENJINAKKAN LIDAH
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 18 September 2019

PENGANTAR (Latar Belakang Kitab)
Surat ini ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora yakni mereka yang tersebar dalam perantauan. Yakobus menujukan surat ini kepada duabelas suku yang telah percaya kepada Yesus Kristius (1:1).

Sepertinya, Yakobus melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh jemaat Tuhan ini dengan cara umum, yakni tentang perbagai pencobaan hidup yang harus mereka alami sebagai kaum pendatang maupun pencobaan iman sehubungan dengan status mereka sebagai orang percaya (1:2-18); bagaimana seharusnya sikap orang percaya berhubungan dengan Firman Tuhan yang telah mereka terima (1:19-27); relasi dan interaksi dalam jemaat maupun di luar jemaat (2:1-13); termasuk cara menggunakan lidah (3:1-18); iman yang harusnya diejawantahkan dalam perbuatan (2:14-26); dan beberapa pokok penting yang berhubungan dengan tindakan, cara hidup serta sikap yang harus dilakukan oleh seorang yang percaya kepada Yesus Kristus (4:1-5:20).

Dengan kata lain, jika tulisan Paulus berbicara tentang begitu banyak kerygma dan hal-hal yang bersifat doktrin teologis, surat Yakobus justru menitik beratkan pada aspek lain yakni tindakan nyata dari tiap kerygma yang telah diimani itu. Bagaimanakah seorang bercaya bersikap? Bagaimana memandang harta itu? Apa yang dilakukan jika merencanakan hari esok? Jika ada penderitaan dan persoalan hidup apakah yang harus diperbuat sebagai orang percaya? Dan masih banyak lagi berbagai hal yang sifatnya tindakan nyata sebagai orang Kristen yang diajarkan Yakobus.

PENJELASAN NATS

Pasti diantara kita mengenal lagu rohai untuk anak-anak, yang penggalan syairnya berbunyi: “hati-hati gunakan lidah, karena Bapa di Sorga melihat penuh cinta, hati-hati gunakan lidahmu”. Syair ini menegaskan tentang pentingnya mengatur cara bicara dan bertutur atau menggunakan lidah ketika mengucapkan sesuatu tentang apapun kepada sesama bahkan juga kepada Tuhan.

Sepertinya, Yakobus melihat bahwa terjadi persoalan internal dalam kehidupan jemaat, bukan saja mengenai iman jemaat tapi interaksi antar mereka terutama berhubungan dengan menggunaan lidah. Salah satu yang disoroti oleh Yakobus adalah pengunaan lidah untuk mengajar namun dilakukan dengan cara yang tidak benar. Itulah sebabnya ia menekankan soal janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru (ay.1). Hal ini berhubungan dengan perkataan tidak benar seorang pengajar tentang iman Kristen berupa ajaran sesat dan atau pengertian yang salah namun berapi-api mengajarkan yang salah itu. Sebab tidak ada satupun yang luput dari kesalahan dalam hal berkata-kata (ay.2).

Yakobus menyebut tenang betapa “berkuasanya” lidah untuk menentukan kehidupan orang sebagaimana hebatnya kemudi kecil yang mampu mengendalikan kapal yang besar ataupun bagai lidah api yang kecil dapat membakar hutan (ay.3-5). Karena begitu besarnya pengaruh lidah bagi kehidupan seorang percaya, maka pada ayat-ayat selanjutnya Yakobus menekankan soal berhati-hati menggunakan lidah (berkata).

Dalam rangka kehati-hatian terhadap lidah, Yakobus pada ayat 7-10 memaparkan secara dalam tentang lidah ini dalam hubungannya dengan dosa, yakni:
1.      Apa lidah itu (ay.7,8)
Yakobus menyebut bahwa tidak ada seorangpun dapat menjinakkan lidah. Kalimat ini terkesan berlebihan, tapi yang dimaksud oleh Yakobus adalah “sulit untuk menahan mulut untuk tidak berbicara”. Dan jika sudah berbicara, lidah akan terkesan menjadi sesuatu yang buas, tidak terkuasai dan menjadi racun. Bagaimana hingga lidah bisa menjadi buas, racun dan tidak terkuasai itu. Paling tidak ada dua hal (bahkan lebih) untuk dijadikan contoh:
  1. Memuji diri sendiri
Tindakan “Memuji diri sendiri” atau membangga-banggakan diri banyak dilakukan oleh orang-orang yang merasa membutuhkan “pengakuan” dan “eksistensi.” Tak jarang, tindakan ini dilakukan dengan jalan merendahkan orang lain. Kalaupun tidak merendahkan orang lain, motif memuji diri sendiri  ini umumnya dilakukan dengan perkataan tidak benar atau dusta yang tersembunyi.

  1. Gosip
Istilah ini berrati “Menyebarkan berita-berita atau isu-isu yang tidak benar” tentang orang lain atau biasa disebut dengan fitnah. Hal ini dapat dipicu oleh rasa kecewa, tidak dihargai, tersingkir, atau tidak mendapat tempat dalam jemaat atau di tengah masyarakat dsb. Semua yang diucapkan oleh mulut melalui lidah sebagai alat ucap itu adalah perkataan yang tidak benar dan juga dusta yang tersembunyi.

Dampak dari kedua contoh diatas hanyalah satu yakni merusak. Jika seseorang sudah memulai dengan kebohongan atau dusta, maka ia akan ”membenarkan” dustanya itu dengan ”menggunakan” dusta yang lain, dan kemudian berlanjut terus. Di sisi lain, dua hal ini kemudia merusak hidup persekutuan dan menghancurkan ikatan indah di dalamnya (perkawinan, pertemanan, dll). Tidak heran jika Yakobus menyebut bahwa lidah itu liar atau buas (tidak terkendali) dan menjadi racun dalam persekutuan.

2.      Dua fungsi lidah (9-10)

Tidak selamanya lidah itu merusak. Itu juga menjadi penekanan Yakobus pada ayat 9. Lidah dapat juga dugunakan untuk hal-hal yang baik berupa mengucapkan kebenaran dan terutama dipakai untuk memuji Allah. Namun lidah juga bisa digunakan secar atidak benar sebagaimanan disebutkan di atas yakni menjadi kutuk bagi sesama. Sumpah serapah, ucapan yang menyakitkan berupa kata-kata kasar dan kotor adalah poin yang dimaksud oleh Yakobus tentang dengan lidah kita mengutuk manusia.

Hanya ada dua pilihan saja tentang lidah, yakni menjadikan itu sebagai alat kebenaran ataukah alat kejahatan. Menjadikan itu untuk kemuliaan Tuhan atau justru sebaliknya menjadi alat untuk mendatangkan dosa dan kutuk. Pilihan ini ada pada manusia. Manusia yang memiliki lidah punya kewajiban untuk memilihnya.


Pada bagian akhir perikop ini, yakni ayat 11 dan 12, Yakobus memberikan penekanan soal dua pilihan pemanfaatan lidah itu. Pilihan itu mementukan siapa sesungguhnya orang tersebut. Orang yang banyak diam, sering dianggap bijaksana, berhikmat, pandai, dan sebagainya. Mungkin karena pengaruh suatu pepatah “diam itu emas.” Di sisi lain, orang yang banyak bicara sering dianggap luwes, mudah akrab, terbuka, dan sebagainya. Tetapi sebetulnya, yang paling utama bukanlah seberapa banyaknya dia diam atau seberapa banyaknya dia berbicara, melainkan seberapa bernilainya ucapan yang ia ucapkan!

Bagi Yakobus, tidak ada sumber mata air yang baik (tawar) memancarkan air yang buruk (pahit) dan atau pohon ara berbuah zaitun. Siapakah seseorang itu ditentukan dari bagaimana ia mengendalikan lidahnya, atau bagaimana ia berucap dan berkata-kata. Sebab dari ucapannya kita dapat mengetahui siapa sesuangguhnya orang itu.


REFLEKSI
Kendalikan lidah kita masing-masing dengan cara mengatur apa yang akan diucapkan mulut dan apa yang akan dikatakan kepada sesama. Tidak mudah mengendalikan lidah sebagaimana Yakobus katakan. Tetapi dengan hikmat Tuhan kiranya kita dimampukan. Sebab bagaimana mungkin kita berani mengatakan bahwa kita adalah pribadi yang takut akan Tuhan, namun tutur kata dan ucapan kita tidak mampu mencerminkan hal tersebut.

Perhatikanlah bahwa sumber mata air tawar tidak mungkin memancarkan air pahit. Orang percaya yang telah dibenarkan seharusnya mampu mengucapkan setiap perkataan yang benar untuk meuliaan Tuhan dan membangun sesama. Amin.

Thursday, September 5, 2019

AMSAL 10:15-18


AMSAL 10:15-18
MENGINDAHKAN DIDIKAN TUHAN
Ibadah Keluarga Rabu, 11 September 2019

Pengantar
Kitab Amsal adalah buku  kumpulan ajaran moral dan pandangan hidup yang luas dalam corak puitis. Mereka yang mendalami karya Salomo ini dapat memperoleh petunjuk-petunjuk praktis tentang bagaimana cara hidup orang beriman menghadapi persoalan dan tantangan hidup yang keras dan kejam. Salomo sendiri telah menulis 3000 amsal (1 Raja-raja 4:32) dan terdapat 35 kutipan amsal dalam Perjanjian Baru.

Pasal 10-22 adalah kumpulan dari Amsal Salomo yang berisikan tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan di hadapan Allah dan sesama, serta menjalani kehidupan sukses di tengah kehidupan. Amsal selalu membandingkan tentang orang benar dan orang fasik; orang saleh dan orang munafik; serta kebenaran dan kejahatan. Dua kubu ini hampir selalu muncul dalam wejangan hikmatnya.

Pada bacaan kita saat ini yakni Amsal 10:15-18, terdapat 4 (empat) tema yang muncul yakni mengenai kekayaan dan kemiskinan, upah yang benar dan yang fasik, didikan dan teguran, serta yang terakhir tentang menyembunyikan kebencian vs mengumpat.

Telaah Perikop (exsegese teks)
Empat tema tersebut, yang diangkat oleh Salomo pada ayat 15-18 ini akan kita bahas berdasarkan beberapa pokok bahasan sebagai berikut:
1.      Mengupayakan kehidupan melalui harta benda
Apabila kita membaca ayat 15 bacaan kita, maka kita menemukan sesuatu yang “seakan bertentangan” dengan konsep Salomo mengenai harta dan kekayaan. Misalnya silakan lihat redaksi Amsal 18:11 dan bandingkan juga dengan bunyi Amsal 10:15.
Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya. (Amsal 18:11)

Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan. (Amsal 10:15)

Amsal 18:11 dengan jelas berbicara tentang jebakan harta dan kekayaan ketika dijadikan sebagai tembok tinggi atau tempat berlindung dari segala kehancuran. Harta menjadi pertahanan menghadapai segala sesuatu, sehingga secara tidak langsung harta telah “mengantikan posisi” Tuhan. Padahal dengan jelas, Salomo mengkritik kehidupan model seperti itu dan kemudian menyatakan bahwa TUHAN adalah Menara yang kuat dan di sanalah orang mencari keselamatan (lihat 18:10).

Jika merujuk pada penjelasan di atas, lalu mengapa kemudian kalimat “Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya” pada Amsal 10:15 terkesan positif dituturkan Salomo dan berbeda suasananya ketika membaca Amsal 18:11?

Dualisme pemahaman ini menjadi jelas jika kita membaca dua ayat di awal pasal 10 kitab Amsal, secara khusus ayat 4,5 yakni:
4  Tangan yang lamban membuat miskin,
tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
5 Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi;
siapa tidur pada waktu panen membuat malu.

Pada bagian ini, Salomo berbicara twntang usaha dan kerja untuk memperoleh kekayaan atau harta bendawi demi melangsungkan kehidupan. Dengan demikian, jika membaca ayat 15 pasal 10 dalam terang ayat 4 dan 5 kita menemukan keterkaitan yang sangat penting yakni: apabila seorang malas dan lamban dalam mengupayakan kehidupan, sertatidak menyiapkan diri menghadapi tiap musim kehidupan memlaui akalbudinya, maka kemiskinan akan menjadi warna kehidupannya. Hasil akhir adalah kebinasaan karena kemelaratan hidup yang ia terima karena bermalas-malasan.

Selanjutnya, Salomo menekankan tentang, pentingnya untuk memilah sumber penghaslan yang diperoleh ketika mengupayakan harta dankekayaan melalui bekerja. Menurut Salomo ada dua sumber upah dari kerja, yakni yang dilakukan secara benar oleh orang benar dan yang dilakukan dengan cara tidak benar oleh orang fasik (ay.16). Dua asal upah ini mengarah pada dua tujuan akhir yakni kehidupan dan dosa.

Pernyataan pada ayat 16 ini diteguhkan oleh ayat 2 yakni segala sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, yakni memperoleh harta benda dengan cara yang salah akan membawa siapapun pada kehancuran sebab semuanya tidak akan berfaedah. Di sisi lain, Salomo meyakninkan bahwa ketika bekerja serta memperoleh harta kekayaan dengan cara yang benar, kehidupannya dijamin selamat dari Maut. Bahkan ada jaminan bahwa orang benar tidak akan dibiarkan oleh TUHAN mengalami kelaparan.  

2.      Manfaat didikan dan teguran
Terdapat dua penekanan penting yg disampaikan oleh Salomo pada ayat 17 ini, yakni:

Pertama: Orang yang benar tidak hanya menerima pengajaran, tetapi juga menyimpannya. Mereka tidak membiarkannya terlepas begitu saja karena ceroboh, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Mereka tidak membiarkannya jatuh ke tangan orang-orang yang akan merampasnya. Mereka mengindahkan didikan baik-baik, menjaganya agar tetap murni dan utuh, untuk mereka gunakan sendiri, supaya dengan itu mereka bisa menguasai diri mereka sendiri, menyimpannya demi kepentingan orang lain, supaya bisa mengajar orang-orang tersebut. Barangsiapa berbuat demikian akan menuju jalan kehidupan, yaitu jalan yang disertai penghiburan sejati dan menuju kehidupan kekal.
Kedua: Orang yang salah bukan hanya tidak menerima pengajaran, melainkan juga berketetapan serta berkehendak untuk menolaknya ketika pengajaran itu ditawarkan kepada mereka. Mereka tidak mau diajar tentang kewajiban mereka karena pengajaran itu menyingkapkan kesalahan mereka. Mereka sangat membenci pengajaran yang mengandung teguran, dan jelas mereka keliru. Ini merupakan tanda bahwa penilaian mereka keliru, dan mereka memiliki pemahaman yang keliru tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Itu sebabnya perilaku mereka juga sesat. Seorang pengembara yang tersesat, yang tidak mau diberi tahu akan kekeliruannya serta ditunjukkan jalan yang benar, maka sudah pasti ia akan tetap tersesat, dan terus-menerus tersesat. Jelas dia telah kehilangan jalan kehidupan.

3.      Menyembunyikan Kebencian
Apakah maksud dari menyembunyikan kebencian? Bukankah adalah baik untuk tidak menunjukkan rasa marah dan benci di depan umum. Ternyata Salomo bermaksud mengatakan dengan cara yang berbeda, yakni tentang kefasikan dan berpura-pura menahan kebencian.

Ketika kejahatan ditutupi oleh kata-kata manis dan penyamaran: Maka siapa-pun yang menyembunyikan kebencian dengan bibir yang berdusta, meskipun menganggap dirinya sendiri cerdik, ia tetap adalah orang bebal. Bibir yang berdusta saja sudah dianggap buruk, apalagi jika dipakai sebagai selubung kejahatan, atau ada maksud jahat dalamnya, yakni supaya terlihat benar dan baik..

Salomo bermaksud menekankan soal kemunafikan yakni dengan cara menyembunyikan rasa benci pada seseorang supaya terkesan bahwa ia hebat dan tangguh, tetap terkategori sebagai orang bebal. Yang benar adalah murni mengampuni seseorang dengan tulus dan rela melepaskan pengampunan secara sukarela. Di sisi lain, jika dengan sengaja mengumpat atau menyampaikan perkataan kasar kepada mereka yang dibenci maka label bebal tetap menjadi bagian kehidupannya. Tidak heran kemudian di ayat 19, Salomo mengajak untuk berhati-hati untuk berbicara dan memiliki kemamuan untuk mengekang bibirnya.


Renungan dan Penerapan

Wednesday, August 21, 2019

NEHEMIA 5:1-13



PEMIMPIN YANG BERKHIKMAT
Bahan Bacaan Alkitab Ibadah Rumah Tangga
Rabu, 21 Agustus 2019

A. PENGANTAR
Nehemia, Ibrani: × ְ×—ֶמְ×™ָ×” (baca: Nekhemyah), yang berarti: Yahwe (Allah) itu besar. Dia adalah juru minuman bagi Raja Artahsasta (Nehemia 2:1) dari Persia, yang mengangkatnya menjadi bupati Yehuda (Nehemia 8:9), sekitar 445 sM. Ia termasuk salah seorang organisator yang paling kuat dari masyarakat Yahudi yang pulang kembali setelah pembuangan. Nehemia Kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem (dalam Nehemia 2:1-6:19). Tugas itu dilakukannya dalam waktu 52 hari pad atahun 445 sM, meskipun usaha pembanguan kembali dirintangi dengan perlawanan dari pihak bangsa Samaria dan musuh bangsa Yahudi lainnya (6:15). Ia menjadi wakil penguasa Persia dan ia tunjukkan suatu sikap ikhlas tanpa pamrih (5:14-19) dan bijaksana (Neh 7:1-3). Ia bela kepentingan sesama warga negara yang miskin di kampung halamanya itu (Nehemia 5:1-13). 
 

B. PENJELASAN NATS
Perikop bacaan kita saat ini adalah pemgalan kisah tentang bagaimana seorang pemimpin seperti Nehemia membela warganya yang miskin dan mengalami pemiskinan terstruktur oleh pemerintahan dan para pembesar saat itu.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam kisah kita ini? Mengapa muncul persungutan dan keluhan dari warga yang kembali dari pembuangan? Berdasarkan ayat 1-13 bacaan kita, maka ada beberapa hal yang perlu diuraikan mengenai kondisi keluhan tersebut, yakni:
1.       Nehemia dan umat yang kembali dari pembuangan sedang disibukkan dengan pembangunan ulang tembok Yerusalem. Sebagai pemimpin rombongan ia dengan hebatnya mengatur strategi pembangunan berdasarkan kualifikasi para ahli dan kemmapuan tiap orang (3:1-32)
2.       Saat melaksanakan pembangunan, rupanya tidak berjalan dengan mulus. Beberapa orang menjadi perusuh dan penentang pelaksanakaan pembangunan itu. Sanbalat dan Tobia merupakan “otak” dibalik aksi menhhalangi pembangunan itu (4:1-4). Kendati demikian pembangunan tetap dilakukan (4:5)
3.       Di sisi lain, kemampuan para pekerja ternyata merosot tajam dari segi kekuatan dan tenaga untuk membangun. Bahkan terdengar kabar bahwa akan terjadi kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok yang tidak menyetujui pembangunan tersebut. Namun Tuhan juga turut campur tangan melalui Nehemia yang mengatur strategi berjaga sambil terus membangun (4:10-23).
4.       Pembangunan terus berlanjut. Tetapi rupanya kondisi pasca kembali dari pembuangan, membuat kemmapuan finasial sebagian besar umat tidak mampu membiayai kebutuhan hidup di tanah gersang yang telah ditinggalkan 70 tahun itu. Banyak dari mereka mengalami kelaparan sehingga terlilit hutang dan terjebak dalam sistem jual-beli budak saat itu. Pada perikop ini kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:
a.       Jumlah hasil persediaan gandum sebagai bahan pokok berbanding terbalik dengan jumlah mulut yang harus diberi makan (ay.2). Sangat mungkin disebabkan karena kondisi tanah yang belum semua dapat digarap.
b.      Dampak dari minimnya pasokan bahan pokok makanan ini membuat beberapa warga menjual kebun anggur, ladang dan rumah mereka demi mendapatkan gandum yang harganya demikian tinggi (ay.3). Dapat dibayangkan kondisi sangat memprihatinkan terjadi saat itu. Bukan saja tidak bisa makan, mereka kini tidak ada tempat berteduh atau mencari nafkah karena sumber nafkah yakni kebun dan ladang sudah dijual, termasuk rumah sebagai tempat mereka tinggal.
c.       Kondisi ini diperparah dengan jumlah pajak yang sangat tinggi harus dibayar kepada raja (ay.4). Hal membayar pajak adalah hal wajar pada masa itu terutama kepada penguasa. Andaikata kondisi mereka makmur tentu tidak akan menjadi masalah pada waktu itu.
d.      Rupakanya ada yang mengambil kesempatan di tengah kesempitan orang banyak yang menderita pada waktu itu. Hal ini tergambar pada ay.5 bacaan kita. Demi kelangsungan hidup, akhirnya mereka berhutang pada saudara mereka sebangsa yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik. Cara berhutangpun dilakukan dengan sitem riba (bunga) yang mencekik para orang miskin tersebut.

Bukan itu saja, ketika tidak mampu membayar karena bunga yang tinggi, maka keluarga penghutang menjadi jaminan dan kemudian menjadi budak dari saudara sebangsanya sendiri. Para penguasa memberi bunga yang tinggi dan mengatur sistem jual beli budak dengan harga yang murah ini tentu mendapat keuntungan saat membangun kekuatan ekonomi dan bisnis di daerah yang baru mau berkembang itu.


Selanjutnya, apa reaksi Nehemmia sebagai wakil pemerintahan Persia waktu itu? Nehemia diangkat sebagai Bupati (5;14), sehingga memiliki wewenang dan kekuasaan langsung dari Kerajaan Persia, sehingga wajar jika jika orang banyak datang mengadu padanya. Perhatiakan apa yang dilakukan oleh Nehemia sebaga seorang pemimpin di masa “kacau” itu:
1.      Perlu untuk ditekankan bahwa kondisi di kampung halaman tidak memiliki berbagai fasilitas penunjang, dan siap untuk menghadapi kedatangan orang banyak. Sebaliknya, Nehemia baru memasuki tahap awal perbaikan infrastuktur, sistem pemerintahan dan sistem keagamaan. Kacau adalah istilah yang tepat dimasa bupati Nehemia pada saat itu.

2.      Ketika mendengar keluhan itu, Alkitab menyebut bahwa reaksi Nehemia adalah “sangat marah”. Sebelum mengurai arti mengapa ia sangat marah tersebut, mari perhatikan secara detail redaski ayat 6 bacaan kita: “Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu.”. LAI menerjemahkan keluhan untuk kata ×–ְ×¢ָ×§ָ×” (baca:ze`aqah) yang sebaikanya diterjemahkan dengan tangisan. Perhatikanlah di tengah kesibukan dan keterbatasan Nehemia melaksanakan tugas-tugas yang tidak mudah itu, ia tidak mengabaikan KELUHAN dan tangisan warga golongan miskin dan tidak berpangkat itu.

Alkitab menyebut bahwa segera bereaksi. Saya membayangkan ketika sedang sangat sibuk itu, tiba-tiba mereka datang “mengganggu” Nehemia dengan masalah perut mereka. Nehemia segera berhenti beraktifita dan dengan penuh seksama duduk mendengar jeritan golongan tidak mampu yang datang padanya. Bagian ini penting untuk memberi arti tentang pemimpin yang seperti apakah Nehemia itu.

3.      Mengapa Nehemia sangat marah? Sangat beralasan. Sekian tahun umat Israel menderita oleh bangsa luar. Tanah yang berlimpah susu dan madu itu kemudian dikuasai oleh bangsa lain. Nyatanya ketika TUHAN membawa mereka pulang dan menikmati kebebasan, justru umat kembali mengalami penindasan dan permudakan, merasan, dan perampasan hak, bukan oleh bangsa lain tapi oleh bangsa sendiri. Itulah sebabnya Nehemia disebut sangat marah.

4.      Tindakan jitu serang pemimpin yang baik adalah tidak langsung bertindak melainkan mengolah informasi yang masuk padanya dengan cara menimbang dengan penuh ketelitian. Itulah yang digambarkan pada awal ayat 7 bacaan kita.

Selanjutnya sebagai pemimpin, ia menggunakan wibawa kekuasaannya dengan memanggil para pejabat dan pemuka sebagai sumber segala masalah tersebut. Tanpa ragu dan kuatir, Nehemia membuka “kesalahan” mereka di depan mata mereka. Nehemia tidak memihak kepada para pejabat itu demi zona nyaman dan tidak enak hati. Ia tidak memilih berdiri di samping para pebisnis kotor yang menyengsarakan rakyatnya. Ia dengan tegas meminta mereka menghentikan perbuatan jahat mereka dan mengembalikan semua orang yang telah terjerat hutang dan sistem perbudakan.

Nehemia berhasil menjadi pemimpin yang baik dan berhikmat, ketika ia lebih memihak kepada kebenaran dan kemudian menolong rakyatnya yang mengalami kesengsaraan hidup.


C. RELEVANSI DAN APLIKASI


Thursday, August 8, 2019

I PETRUS 1 : 8 – 12


I PETRUS 1 : 8 – 12
PERCAYA DAN DISELAMATKAN
Bahan Khotbah Ibadah Keluarga
Rabu, 14 Agustus 2019

Oleh: Vik. Victoriana D. Resdawati, S.Th [1]

PENGANTAR
Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang berstatus sebagai pendatang dan perantau di daerah Asia Kecil di bagian utara. Mereka hidup di tengah kondisi dan situasi masyarakat serta penguasa yang cenderung menolak bahkan memusuhi dan menganiaya mereka. Sebab itu penulisan surat ini memiliki tujuan penting agar jemaat sadar dan siap sedia dalam mengalami tantangan dan menanggung derita oleh sebab iman kepada Kristus.

Petrus mengingatkan dan menguatkan bahwa segala penderitaan mereka tidak akan membuat mereka kalah karena kekuatan iman mereka terletak pada Kristus yang telah mengalami derita sengsara dan kematian dalam rangka menebus manusia dan mengampuni dosa manusia. Kristus yang telah bangkit dan menang atas maut menjadi sumber pengharapan setiap orang percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal yang jauh melebihi apapun juga. Kristus yang hidup, menyertai dan menguatkan umat-Nya dalam pengharapan iman mereka untuk tetap tekun dan setia sampai pewujudan kemuliaan sorgawi dinyatakan kepada mereka yang tekun beriman.

PEMAHAMAN TEKS
Petrus memuji iman jemaat kepada Kristus, sebab iman mereka tidak didasarkan pada penglihatan (1:3). Alasan inilah yang mendorong Petrus bertindak melalui suratnya untuk meneguhkan dan menguatkan iman jemaat kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka tetap percaya dan mengasihi Tuhan, meskipun di tengah berbagai penderitaan dan cobaan yang dialami. Petrus mengatakan, sikap seperti ini hanya bisa dinyatakan oleh orang-orang yang telah mencapai tujuan imannya (ay.9).

Pemahaman ini penting untuk disadari sebagai pijakan iman orang percaya, bahwa oleh karena anugerah Allah-lah maka keselamatan diperoleh. Petrus menegaskan tentang prinsip sebagai pengikut Kristus, yakni siap bersaksi dan menderita, sebab Kristus sudah lebih dulu memberi teladan hidup melalui karya pelayanan-Nya hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.  

Petrus kembali mengingatkan dasar ajaran tentang Kristus kepada jemaat, agar mereka tidak ‘lemah iman’ / ‘memilih zona aman’ tetapi dengan iman kepada Kristus, jemaat harus tetap teguh pada berita Injil yang sudah mereka terima. Jaminannya jelas, yakni pemeliharan dari Kristus akan membuat setiap orang percaya berdiri tegak, walaupun derita, cercaan, penganiayaan dirasakan, sebab dunia tidak punya tempat untuk menghakimi anak Allah.

Penderitaan didunia adalah bukti kehidupan nyata, ada banyak hal yang akan dihadapi, berbagai pergumulan, penderitaan dan juga sukacita. Namun, yang perlu digaris bawahi “Keselamatan adalah anugerah kasih Allah yang harus direspon orang percaya dalam hidupnya”. Oleh karena Roh Kuduslah, berita Injil dapat disebarluaskan, dan oleh karena Roh Kudus maka tiap-tiap orang memberi diri dan menerima keselamatan. Jadi jelas, keselamatan disebut anugerah, karena semua terjadi atas inisiatif Allah, IA yang merancangkan dan merencanakan. Hal itu dipersiapkan dan dinubuatkan jauh hari sebelumnya kepada para nabi untuk disampaikan kepada umat Allah (ay.10). Bahwa keselamatan dari Allah dianugerahkan melalui Anak-Nya yang tunggal dengan cara penderitaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan-Nya untuk mematahkan ikatan kuasa dosa dan maut.

Berita tentang penyelamatan Allah atas dunia merupakan berita yang menakjubkan. Kasih Allah adalah dasar keselamatan tersebut, dan Roh Kudus yang diutus membawa berita itu, baik dimasa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Bagi Allah, manusia sangat berharga, IA ingin berita tersebut terus disampaikan kepada dunia sehingga banyak orang mengalami kasih-Nya yang besar.

Bagian ini menjadi penting dalam rangka  meneguhkan dan menguatkan iman percaya jemaat yang tergoncang akibat penderitaan. Petrus juga memberikan peringatan bahwa jangan sampai karena penderitaan, jemaat meninggalkan Kristus. Sekalipun dunia menolak, tetapi Petrus mengingatkan jemaat akan apa yang sudah mereka terima. Kalaupun mereka telah kehilangan sesuatu didunia karena beriman kepada Kristus, namun PERCAYALAH DENGAN IMAN, bahwa mereka sudah menerima keselamatan jiwa sebagai gantinya.

Dengan demikian, penderitaan yang dialami jemaat harus dipandang dari sudut iman, yakni untuk memurnikan cara hidup beriman orang percaya. Berarti, peristiwa apapun yang terjadi berpotensi untuk menjatuhkan/mematikan iman, tetapi juga berpotensi menumbuhkan iman kepada Kristus. Maka sebagai orang percaya, dituntut untuk peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan juga tetap waspada terhadap kuasa yang dapat menjatuhkan/mematikan iman kita. Dua kemungkinan yang dapat terjadi sebagai respon penderitaan, yakni BERTUMBUH atau JATUH.

Hal yang perlu diingat, sekalipun Tuhan seolah membiarkan segala sesuatu terjadi dalam kehidupan kita, bukan berarti Tuhan lepas tangan, atau membiarkan kita bergumul sendiri. Tetapi, tangan  kasih Tuhan tidak kurang panjang merangkul tiap orang yang mengandalkan-Nya. Sebab, dalam iman terkandung kekuatan Allah. Sebagaimana dikatakan pada ayat 5:”yaitu kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu”. Berarti, beriman kepada-Nya akan menghasilkan kekuatan yang hanya dapat diperoleh apabila iman itu bertumbuh dan berbuah. Jika orang percaya mampu mengerjakannya, maka kekuatan dan tahan uji akan diperoleh, sehingga dunia tidak akan mampu menggoyahkan identitasmu sebagai anak Allah.


RELEVANSI dan APLIKASI
Silakan relevansikan bahan khotbah ini berdasarkan situasi kebutuhan jemaat.


[1] Vikaris GPIB Tahun Pertama di GPIB Jemaat “Pniel” Palembang. Alumni STT INTIM Makassar.

GALATIA 5:1-12


GALATIA 5:1-12
CITRA MANUSIA MERDEKA
Khotbah Ibadah Hari Minggu
Minggu, 11 Agustus 2019

Oleh: Pdt. Frilliany Putiray, M.Si (Teol)

PENDAHULUAN
Surat Galatia merupakan surat yang ditulis oleh Paulus untuk meyakinkan jemaat di Galatia bahwa ia benar adalah rasul Yesus Kristus. Tetapi pertama-tama surat ini ditulis untuk memberikan pandangan yang benar tentang kebenaran Injil yang diberitakan Paulus, terkait kontroversi/ perdebatan/ pertentangan di tengah jemaat akibat pengajaran sesat. Sebelumnya Paulus telah mengunjungi jemaat ini dan memberitakan Injil Kristus kepada mereka. Namun dengan segera ketika Paulus pergi dari situ, mereka berbalik kepada injil lain yang diberitakan untuk mengacaukan iman kepada Kristus yang telah terbentuk dalam persekutuan (1:7).

Paulus menyebut pemberita palsu dengan sebutan pengacau. Pengacau itu menekankan bahwa kaum beriman yang bukan Yahudi, seperti orang-orang Galatia, harus menjalankan upacara-upacara Yahudi, termasuk sunat. Dengan pengetahuannya tentang Taurat, Paulus mempertahankan pandangannya bahwa menaati hukum Taurat tidak membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Apa yang membuat seseorang menjadi anak Allah adalah imannya akan Yesus Kristus (3:11). Bagi Paulus, hukum Taurat adalah penuntun bagi orang percaya sampai Kristus datang, supaya kemudian dibenarkan oleh karena iman (3:24).



TELAAH PERIKOP
Ada beberapa hal yang akan diperhatikan dari bacaan ini.
Pertama, keselamatan merupakan anugerah yang diberikan berdasarkan kemurahan Allah, sepenuhnya bergantung pada iman akan Yesus Kristus. Keselamatan di dalam Kristus itu yang kemudian memerdekakan orang percaya dan memberikan bagi mereka kebebasan dari beban perbudakan. Ini adalah kemerdekaan berdasarkan penebusan karena anugerah, yang harus diperhadapkan dengan keadaan manusia, seperti orang Yahudi pada zaman Paulus, yang terikat dengan upacara-upacara agamawi. Dengan kata lain, anugerah kebebasan menjadi mungkin hanya karena Kristus telah membayar dosa manusia dan Roh Kudus memimpin orang percaya keluar dari perhambaan dosa itu.

Kedua, pokok persoalan ialah sunat. Bacaan ini menegaskan pandangan Paulus bahwa bukan perbuatan melakukan Taurat (sunat) yang akan menyelamatkan seseorang, melainkan iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus (2:16). Dalam Roma 4:11, Paulus mengatakan bahwa tanda sunat diterima oleh Abraham sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ia tunjukkan. Berarti bahwa karena sikap ketaatan iman Abraham kepada Allahlah maka diperhitungkanNya itu sebagai kebenaran. Sunat kemudian dipakai Allah sebagai meterai/cap/segel untuk mensahkan iman Abraham kepadaNya. Jelaslah bahwa iman kepada Allah yang membenarkan perilaku Abraham, bukan sunat. Keselamatan hanya datang dari Kristus, bukan dari Kristus + Taurat. “Jikalau kamu menyunatkan diri,” nampak bahwa ternyata mereka belum melakukan sunat.

Paulus menegaskan bahwa tindakan itu berarti seseorang membuat dirinya sekali lagi berada di bawah seluruh hukum Taurat, karenanya siapa Kristus dan apa yang dilakukanNya, sama sekali tidak akan berguna bagi orang itu. Dengan penyerahan diri di bawah Taurat, dan keinginan untuk dibenarkan karena melakukan Taurat, orang tersebut pada prinsip dan kenyataannya memisahkan diri dari lingkungan kaish karunia dan dari kesetiaan iman dalam Yesus Kristus (Roma 5:2).

Ketiga, karena sunat dipakai hanya sebagai sarana untuk mensahkan tindakan iman yang dipandang Allah sebagai kebenaran, maka hal yang penting sebenarnya bukan sunat atau tidak disunat, melainkan iman yang bekerja oleh kasih (agape: kesedian memberi diri). Tindakan imani yang dinyatakan melalui kasih ini diulang oleh Paulus tiga kali, ayat 6, 13, 14. Betapa menegaskan bagi orang percaya di Galatia bahwa iman kepada Allah dalam Yesus Kristus perlu dinyatakan lewat tindakan kasih yang nyata kepada sesama. Dalam tindakan seseorang mengasihi sesamanyalah, maka nampak imannya kepada Kristus. Bagi Paulus, prinsip pengontrol hidup ialah iman terungkap dalam kasih, sebagaimana halnya dalam hidup Kristus. Hakikat dari kekristenan bukanlah legalisme, melainkan hubungan pribadi dengan Yesus Kristus yang dicirikan oleh kasih.

Paulus menyadari bahwa ajakan untuk tunduk kepada Taurat bukanlah berasal dari Allah yang telah memanggil mereka. Paulus yakin, jemaat Galatia akan memperhatikan apa yang dia katakan, dan akan tetap berada dalam kasih karunia Yesus Kristus. Pengacau yang mengganggu ketenangan kepercayaan mereka pun akan menderita, menanggung hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu. Menyikapi kenyataan ini, Paulus mengingatkan jemaat Galatia bahwa mereka adalah orang-orang merdeka yang telah dimerdekakan oleh Kristus dari legalitas peraturan-peraturan agamawi. Eleutheroo atau merdeka adalah istilah yang dipakai oleh Paulus yang berarti jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan! Perhambaan dimaksud adalah bukan saja hamba dosa, tetapi juga berbagai aturan lama keyahudian yang begitu mengikat. Mengapa? Karena dalam persekutuan dengan Kristus, ada kemerdekaan.

Penggunaan kemerdekaan iman ini harus nyata dalam sikap kasih terhadap sesama, dan bukan menjadi kesempatan untuk hidup di dalam dosa. Jemaat Galatia dinasihati untuk berdiri teguh pada kebenaran yang telah mereka terima yaitu Injil Yesus Kristus. Kemudian saling mendukung dalam kehidupan persekutuan, saling menguatkan dalam iman kepada Kristus (ay.15).

RELEVANSI
Silakan uraikan relevansi bahan khotbah ini dalam kehidupan sehari-hari.

Yesaya 1:10-20

YESAYA 1:10-20 BAHAN KHOTBAH IHM 20 SEP 2026 PENDAHULUAN Bayangkan Anda menerima sebuah kado ulang tahun. Bungkusnya  luar biasa indah—kerta...