Monday, September 9, 2013

BAHAN RENUNGAN SEKTOR 11 SEPTEMBER 2013


ROMA 13:12-14

Jemaat Tuhan,....
Hari ini kita merenungkan sebuah tema: "bangun dari tidur" (Lih. Ay 11). Dalam pengertian sehari-hari istilah tidur adalah sebuah aktivitas manusia untuk memperoleh kesegaran kembali, setelah capek melakukan kegiatan rutinitasnya. Tetapi lain halnya dengan istilah "tidur-tiduran atau kerjanya tidur melulu", itu namanya "orang malas", kecuali seorang bayi atau seorang yang sudah lanjut usia. Artinya dalam waktu yang tepat tidur itu adalah sesuatu yang perlu dan menyehatkan. Namun, tidur yang dimaksud pada nas diatas, bukanlah tentang "tidur jasmani/badani", tetapi tentang "tidur secara "rohani".

Bagaimana wujud dari kita yang dibangunkan dari tidur (ay. 11) atau menjadi pribadi yang sudah diselamatkan? Di ayat 12-14, Paulus menjabarkan wujudnya yaitu memelihara kesucian hidup. Seorang yang dibangunkan dari tidur adalah seorang yang berwaspada. Seorang yang berwaspada adalah seorang yang memelihara kesucian hidup. Di sini, Paulus menjabarkan bahwa kesucian hidup hanya didapat ketika seseorang mengenal kasih (ay. 8-10). Bagaimana cara memelihara kesucian hidup? Paulus menjabarkannya di dalam dua prinsip di ayat 12-14:

Pertama, kesucian hidup berarti menanggalkan kehidupan lama. Di ayat 12, Paulus menggambarkan poin ini dengan penjelasannya, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” Paulus menggambarkan kita yang harus menanggalkan kehidupan lama kita sebagai “hati sudah jauh malam.” Arti dari “hari sudah jauh malam” yaitu malam sudah hampir berakhir/selesai dan siang hari sudah mulai mendekat, maka kita harus menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan kita dan mengenakan perlengkapan senjata terang.

Apa yang dimaksud Paulus dengan perbuatan-perbuatan kegelapan? Di ayat 13, ia memberikan jawabannya, “jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.” Di sini, ia membagi perbuatan kegelapan ke dalam dua hal, yaitu apa yang kelihatan (superficial) dan tidak kelihatan. Perbuatan kegelapan yang kelihatan adalah perbuatan yang dilihat jelas oleh mata, yaitu: pesta pora, kemabukan, percabulan, dan hawa nafsu; sedangkan perbuatan kegelapan yang tidak kelihatan yang dipaparkan Paulus adalah perselisihan dan iri hati. Dalam hal ini, Paulus tidak membedakan antara yang kelihatan dan tidak, semua itu dianggap sebagai perbuatan kegelapan.

Jemaat Tuhan,....
memerintahkan kita untuk menanggalkan kehidupan yang lama kita berarti kita benar-benar tidak bersentuhan dan tidak melakukan lagi kehidupan lama kita, seperti ibarat yang Paulus berikan, yaitu malam itu sudah lalu/lewat, berarti malam itu tidak akan kembali lagi. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berkomitmen untuk menanggalkan kehidupan lama kita? Bagaimana caranya menanggalkan kehidupan lama kita? Kita akan memerhatikannya di poin kedua di bawah ini.

Selanjutnya yang Kedua, hidup sebagai anak-anak terang yang berpusat pada Kristus. Cara kita menanggalkan kehidupan lama kita adalah dengan memfokuskan arah hidup kita kepada Kristus. Ketika hidup kita diarahkan kepada Kristus, maka secara otomatis, kita tidak lagi menginginkan hidup berdosa. Mengapa? Karena hidup kita diarahkan kepada Kekekalan, Kesucian, Keagungan, dll dari Allah, sehingga kita otomatis membenci apa yang sementara, najis, tidak agung, dll. Di sini, Kebenaran Allah menjadi fokus penting kita ketika kita mau menanggalkan perbuatan kegelapan. Ketika seseorang tidak kembali kepada Kebenaran Allah, maka ia tidak akan pernah mampu menanggalkan perbuatan kegelapan.

Di sinilah perbedaan total Kekristenan dengan agama-agama lain. Agama-agama lain mengajarkan bahwa manusia bisa menanggalkan kehidupan lama dengan melakukan pertobatan melalui syariat-syariat agama, seperti puasa, dll. Tetapi anehnya makin mereka menjalankan ritual mereka, mereka makin berdosa, mengapa? Karena mereka bukan hanya menjalankan ritual mereka sendiri, tetapi mereka “MEMAKSA” orang lain yang berbeda agama dengannya untuk ikut “toleransi” dengan dirinya yang sedang melakukan ritual/syariat agamanya.

Jemaat Tuhan,....
Lalu, bagaimana kita bisa hidup sebagai anak-anak terang yang berpusat kepada Kristus?
1.       Mengenakan perlengkapan senjata terang (Rm. 13:12)
Kita hidup sebagai anak-anak terang tentu harus memiliki perlengkapan senjata terang sebagai sarana kita berperang bagi Kristus. Kata “berperang” di sini bukan berarti secara fisik. Paulus di bagian lain menjelaskan tentang hal ini, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Ef. 6:11-12) Karena kita berperang melawan roh-roh jahat di udara (bukan secara fisik), maka kita membutuhkan perlengkapan senjata Allah untuk melawannya. Apa macamnya? Efesus 6:14-18 memberikan rincian perlengkapan senjata Allah/terang itu.

2.       Hidup dengan sopan, seperti pada siang hari (Rm. 13:13)
Setelah kita mengenakan perlengkapan senjata terang, kita pun wajib mengaplikasikannya. Wujud aplikasinya adalah melalui kehidupan kita yang benar. King James Version (KJV) menerjemahkan “hidup dengan sopan” di dalam ayat ini sebagai, “walk honestly.” (=berjalan dengan jujur) Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya, “walk about properly.” (=berjalan dengan tepat/sesuai) Dengan kata lain, hidup dengan sopan sebagai wujud kehidupan kita yang benar ditunjukkan dengan kita berjalan dengan jujur/tepat/sesuai dengan Kebenaran.

Ketika kita terus-menerus berjalan di dalam jalan Allah, kita akan menemukan keindahan demi keindahan yang Allah akan singkapkan bagi kita, meskipun tentu kita pasti melewati hambatan demi hambatan di dalamnya. Hidup yang berjalan di dalam jalan Allah adalah hidup yang indah dan tidak akan sia-sia. Salah satu tanda hidup yang berjalan di dalam jalan Allah adalah berusaha mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam hidup. Seorang hamba Tuhan dari gereja Karismatik yang pernah saya dengar mengatakan bahwa kalau kita mau mengerti kehendak Allah, kita harus mematikan kehendak diri. Kalau kita ingin mengerti apa yang Allah inginkan, matikan dahulu keinginan diri kita (bdk. Rm. 13:14b).

Di sini, kita mendapatkan gambaran bahwa salah satu kendala besar untuk mengerti kehendak dan keinginan Allah adalah diri sendiri. Rev. Kris Lundgaard, M.Div. mengatakan bahwa diri kita ini musuh. Oleh karena itu, mulai sekarang, matikan seluruh kehendak dan keinginan kita yang melawan Allah, lalu kembalilah mengerti kehendak dan keinginan Allah. Maukah Anda di dalam hidup ini berjalan di dalam jalan Allah?

Jemaat Tuhan,....
Setelah kita merenungkan dua hal bagaimana kita bisa memiliki kesucian hidup, biarlah kita dicerahkan dan dipimpin Allah untuk mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan mau kita hidup suci, karena Ia adalah Allah yang suci. Sudahkah kita siap untuk itu?

Karena itu, lakukanlah minimal 3 hal ini: Pertama. Tanggalkanlah semua perbuatan-perbuatan kegelapan dan pola pikir duniawi, tinggalkanlah semua hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Janganlah merasa hidup nyaman dan aman didalam hal-hal yang tidak disukai Tuhan dan yang tidak menjadi berkat bagi orang lain. (Roma 13:12); Kedua, Kenakanlah Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang, hiduplah dengan kudus, sopan, baik dalam penampilan, pikiran, perkataan maupun dalam perbuatan. Milikilah gaya hidup yag selalu penuh belas kasih dan lebih mementingkan sesama dan hiduplah sesuai tuntutan firman Tuhan. (Roma 13:13-14)

Ketiga, Hiduplah sebagai pribadi yang siap sedia. Alkitab mencatat bahwa kehidupan kristen adalah suatu kehidupan yang penuh perjuangan dan peperangan. Dan peperangan kita ini, bukanlah melawan darah dan daging yaitu sesama manusia, tetapi melawan setan/iblis, penguasa/penghulu dunia yang gelap ini dan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:12)

Jemaat Tuhan,....
Si iblis dapat menipu dan menyerang, lalu menghancurkan kita dan sesama kita dalam melalui pikiran, perkataan, perbuatan, tingkah laku dan kejadian atau kesempatan apa saja, kapan saja dan dimana saja. Untuk itu kita harus selalu siap-sedia seperti seorang prajurit di medan perang. Amin.


BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 10 SEPTEMBER 2013


KOLOSE 3:7-11

Pendahuluan
Ada ungkapan yang dilontarkan orang “ Hidup tidak merdeka di tengah-tengah kemerdekaan “.  Kalau dulu kita dijajah oleh bangsa lain, sekarang kita dijajah oleh bangsa sendiri.  Alasannya adalah: yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, orang bodoh dibodoh-bodohi orang pintar, sehingga tetap bodoh orang bodoh (makanan empuk orang pintar), yang lemah ditindas oleh yang yang kuat (siapa kuat dia berbuat = hukum rimba), yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan (memutarbalikan fakta), hukum dapat dibeli, lebih berat hukuman pencuri ayam daripada  pencuri kerbau), banyak janjinya, banyak dustanya (dll. dapat ditambah sesuai dari perenungan pengkhotbah).

Hal yang samapun terjadi dalam kehidupan orang percaya. Orang percaya telah dimerdekakan Kristus dari segala bentuk kuasa dosa. Namun kenyataannya banyak orang percaya masih merasa di jajah oleh dosa dan  membiarkan dirinya di belenggu oleh kuasa dosa tersebut. Bagaimanakah supaya tetap merdeka dari dosa? Kolose 3:5-11 dapat menjadi pegangan/pedoman kita dalam kehidupan sehari-hari.

TAFSIRAN / PENJELASAN TEKS.
Dalam perikop ini, Paulus menyebut tentang bagaimana cara dan prilaku hidup yang benar sebagai orang yang telah percaya, yakni:

1.       Mematikan yang duniawi (ayat 5-9)
Empat perkara dunawi yang harus dimatikan yaitu: percabulan, kenajisan, hawa nafsu dan keserakahan.  Empat perkara tersebut dilakukan  diserupakan dengan orang  penyembahan terhadap berhala, dan hasilnya adalah  murka Allah atas orang-orang yang durhaka. Penyembahan berhala adalah: membiarkan hal-hal lain menjadi pusat dari keinginan, nilai dan ketergantungan seseorang, sehingga tidak bergantung kepada Allah atau tidak mengutamakan hubungan dengan Allah, tetapi menggantikan posisi Allah dengan yang lain.  Hal yang demikian dilakukan oleh orang-orang yang belum hidup baru.   Tetapi bagi orang yang telah mematikan yang duniawi harus membuang marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut.  Membuang berarti melepaskan sesuatu sehingga yang dibuang itu terpisah dari yang membuang.  Yang dibuang biasanya adalah barang yang tidak bernilai atau tidak berharga dan dapat disamakan dengan sampah.  Membuang disamakan dengan menanggalkan manusia lama yang menemjui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan (bd. Ef. 4:22).

Kata-kata yang keluar dari mulut: “Ya bila ya, tidak bila tidak”, apa yang lebih dari itu berasal dari sijahat (bd. Mat. 5:37).   Tidak ada dusta di antara anak-anak Tuhan.  Alasannya karena telah mematikan atau menanggalkan manusia lama dengan tanda-tanda yang mengikutinya.

2.       Kedua, mengenakan manusia baru (ayat 10)
Istilah mengenakan dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya: memakai (pakain, topi, dsb).  Seperti mengenakan pakaian baru, maka pakaian yang lama haruslah ditanggalkan, demikian juga dalam mengenakan manusia baru maka manusia lama yang hakekatnya sudah mati haruslah ditanggalkan (bd, ay 5: segala sessuatu yang duniawi). Manusia lama adalah manusia yang belum diperbaharui  atau hidupnya dalam dosa.  Dosa adalah melakukan apa yang dilarang Tuhan dn tidak melakukan apa yang dipewrintahkan  Tuhan  Manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk  memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik. Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, ssupaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan  dari antara orang mati oleh kemulian Bapa, demikian juga kita akan hidup  dalam hidup yang baru (bd. Rom. 6:4).

3.       Ketiga, keselamatan yang Universal (ayat 11)
Bahwa keselamatan itu atau pengenalan Allah itu  itu universal (orang Yunani, orang Yahudi, orang bersunat, orang tidak bersunat, orang Barbar, orang Skit, budak atau orang merdeka) satu di dalam Kristus (bd.Gal. 3:28).

Relevansi dan Aplikasi
1.       Manusia baru dengan mematikan manusia lama (bd. Tema; Pembebasan dari kematian kepada kehidupan).  Manusia baru  dihasilkan oleh kesatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian dan  kehidupanNya.  Orang percaya telah mati terhadap dosa, sehingga kesukaannya adalah menjalankan hidup baru (sesuai dengan  Firman Allah bd. Masmur 119:105).  Hidup baru adalah kehidupan yang mengambarkan kehidupan untuk kemulian Allah (bd. Matius 5:13-16).

2.       Banyak kristen dalam mengenakan  manusia  baru itu seperti memakai pakaian atau memakai topi, tergantung situasi dan keadaan; pakaian dan topi ditanggalkan dan diganti dan mengenakan manusia lama.  Hal ini dapat dilihat dari kekecewaan orang (belum Kristen) yang terhadap kehidupan.  Katanya orang Kristen pemurah, tapi nyatanya pelit.   Katanya orang Kristen orang jujur, tapinya banyak orang Kristen penipu,  Katanya orang Kristen orang yang yang kaya kasih, tapi nyatanya banyak orang Kristen itu orang pendendam. (bd. Seorang suami yang dengan ketat  mengenakan aturan yang ketat terhadap isterinya, isterinya sangat tertekan dan menderita. Oleh aturan yang ketat.  Matilah suami yang kejam tersebut dan tidak beberapa lama  setelah kematian suaminya, ia menikah dengan pria  yang sangat mengasihinya.  Aturan suaminya itu juga yang dilakuknnya, tetapi bedanya pada suami yang pertama, ia sangat menderita menjalankan tugas, tetapi pada suaminya yang kedua ia sangat berssukacita, padahal pekerjaan tetap sama,

3.       Keselamatan universal menuntut hidup kita untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20). Kita adalah agen-agen keselamatan untuk membebaskan dari kematian kepada kehidupan.


BAHAN RENUNGAN PKB 09 SEPTEMBER 2013-09-08


KOLOSE 2:11-15

Pendahuluan
Kolose adalah sebuah kota kecil di Lembah Likus yang indah, sekitar 100 mil (160 Km) sebelah timur efesus, dekat denizli, Turki moderen, berdekatan dengan Laodikia yang lebih makmur. Rasul Paulus bersama dengan Timotius mengalamatkan suratnya kepada jemaat yang disebut sebagai “saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose”. Rupanya, ia sedang berada di penjara Roma, bersama dengan Epafras ia membangun jemaat ini yang pada mulanya adalah orang-orang kafir (1:21; 2:12; 3:7).

Paulus dan Epafras mendengar masalah yang ada di jemaat itu yang disebabkan oleh mereka yang dikatakannya “yang memperdaya” jemaat dengan kata-kata indah (2:4) “mereka yang menawan kamu dengan filsafat kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia (2:8). Kata-kata atau filsafat kosong dan palsu atau jelasnya pengajaran sesat yang dibawa oleh kelompok tertentu rupanya mulai mempengaruhi penghayatan iman jemaat kepada Kristus. Rupanya diantara mereka sudah ada yang mulai tergoncang imannya dan mulai bergeser dari pengharapan Injil yaitu Yesus Kristus.

Penjelasan dan Tafsiran Teks
Sulit memang untuk mengindentifikasi kelompok penyesat yang mengancam kehidupan jemaat Kolose, tetapi ajaran dan praktek mereka di sebut sunat (2:11,13) sebagai bagian dari ketentuan hukum Taurat (2:14). Rupanya jemaat Kolose dipaksa untuk mengikuti ketentuan Hukum Taurat berupa sunat sebagai salah satu syarat untuk beroleh keselamatan. Paulus menentang hal ini dan menjelaskan kepada jemaat Kolose bahwa keselamatan mereka ditentukan bukan oleh Sunat atau ketaatan pada Hukum Taurat, melainkan oleh anugerah keselamatan dalam penebusan Yesus Kristus.

Dalam Perjanjian Lama sunat adalah suatu tanda dan menjadi identitas bagi umat pilihan Allah. Kisah tentang asal mula tanda itu termuat dalam Kejadian 17:10,11. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, sunat ditetapkan sebagai tanda perjanjian itu untuk selamanya. Sekarang, sunat hanyalah tanda dalam daging, sesuatu yang dilakukan pada tubuh manusia. Namun, apabila orang ingin mengadakan hubungan yang khusus dengan Allah, diperlukan sesuatu yang lebih daripada sekedar tanda pada tubuhnya. Ia harus memiliki hati, pikiran, dan karakter tertentu. Di sinilah sebagian orang Yahudi membuat kekeliruan. Mereka memandang sunat dalam dirinya sendiri sebagai sesuatu yang cukup untuk menjadikan mereka khusus bagi Allah. Jauh sebelum itu, guru-guru besar dan para nabi agung telah melihat bahwa sunat daging pada dirinya sendiri tidaklah cukup dan oleh karena itu dibutuhkan sunat rohani.

Dalam Imamat si pemberi hukum berkata tentang hati yang disunat, maksudnya umat Israel harus merendahkan hati untuk menerima hukuman Allah (Im.26:41). Seruan penulis Kitab Ulangan adalah, “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ul 10:16). Ia berkata bahwa Tuhan akan menyunat hati mereka supaya mereka mengasihi-Nya (Ul 30:6). Yeremia berbicara tentang telinga yang tidak disunat, yaitu telinga yang tidak mau mendengar firman Allah (Yer 6:10). Penulis Kitab Keluaran menulis tentang lidah yang tidak.

Hal senada dan tegas juga disampaikan Paulus dalam bacaan kita. Bahwa menurut Paulus, sunat lahiriah tidaklah menjamin keselamatan seseorang. Sunat Kristus yakni penebusanlah yang lebih utama. (ay.11). Yang dimaksud Paulus tentang Sunat Kristus adalah mengenai penanggalan tubuh yang berdosa. Sunat biasa hanya sebagian tubuh, sedangkan sunat Kristus adalah menangalkan seluruh tubuh yang berdosa menjadi ciptaan baru di dalam penebusan yang dilkakukan Kristus yakni mengampuni segala dosa (ay.13).

Penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu bagaikan menghapuskan surat hutang (ay.14).  Ungkapan “surat hutang” berasal dari dunia perniagaan. Surat hutang itu ditandatangani oleh pihak yang berhutang, sehingga surat tersebut mempunyai nilai hukum. Paulus memakai ungkapan ini untuk berfungsi sebagai metafor untuk menyatakan bahwa kita berhutang kepada Allah, yang olehnya kita diganjar dengan maut (Rm 6:23). Namun tak seorangpun di dunia ini yang dapat melunasi hutang itu. Yesuslah yang melunaskan hutang itu dengan mati di kayu salib.

Menarik untuk diperhatikan dalam ayat 14 dan 15 bahwa sekonyong-konyong Paulus mulai memakai istilah “kita” dalam tulisannya, yang sebelumnya menyebut dan menyapa dengan kamu. Para pembaca surat ini adalah orang-orang bukan Yahudi, sedang Paulus adalah seorang Yahudi. Paulus tidak mengecilkan perbedaan antara seorang yang disunat dan yang tidak disunat. Tetapi pada dasarnya keduanya sama. Yahudi dan kafir, kedua-duanya harus hidup dari pengampunan dosa. Kedua-duanya berdosa di hadapan Allah. Maka Yahudi dan kafir kedua-duanya mendapat dari Allah keampunan di dalam Kristus. Sebab itu sekonyong-konyong Paulus berpindah dari kata “kamu” kepada “kita” di dalam ayat 13 dan 14. Ia menggolongkan dirinya sendiri di dalam lingkungan itu. Dengan kata lain, Paulus bersedia menyebut dirinya sama dengan kelompok tak bersunat. Ia sangat tidak mempersoalkan tentang arti sunat itu sendiri.

Relevansi dan Aplikasi
Berdasarkan Uraian di atas, silakan membuat relevansi dan aplikasinya dengan penekanan pada:

  1. Keselamatan datang sebagai anugerah..
  2. Sunat Hati lebih penting dari sunat lahiriah.
  3. Jadilah berkat bagi orang lain yang “berbeda” melalui kesaksian hidup kita.
  4.  

Sunday, September 1, 2013

BAHAN RENUNGAN PKP 3 SEPTEMBER 2013

EFESUS 2:11-22


Ibu-ibu kekasih Kristus....
Saya mau mengajak kita untuk membayangkan sejenak, apa bila peristiwa yang terjadi dalam perikop kita hari ini, terjadi juga dalam kehidupan kita: ditengah-tengah keluarga, jemaat, masyarakat, atau antar suku bangsa lainnya …apa kita ngak merasa ngeri ?? Ketika ada orang-orang yang merasa dirinya itu paling benar, paling hebat, paling bisa, paling dekat, paling suci dan semua yang pake paling-paling lagi … dan kemudian menganggap orang-orang lain disekitarnya itu lebih rendah, lebih buruk, lebih dibawah … dll. Terbayangkan apa jadinya.

Inilah yan terjadi di jemaat Efesus sesuai dengan bacaan kita hari ini. Dalam benak orang-orang Yahudi zaman itu telah tertanam sebuah konsep bahwa mereka adalah umat yang kudus, umat pilihan Allah. Sehingga sulit bagi mereka untuk menerima orang luar (non Yahudi) untuk masuk ke dalam komunitas mereka. Bahkan mereka menganggap najis untuk masuk ke dalam rumah orang non Yahudi. Kalaupun orang Yahudi bersedia menerima orang non Yahudi, tentu dengan syarat mereka harus mau mengikuti tata cara Yahudi seperti sunat dan hukum-hukum lainnya.

Ibu-ibu kekasih Kristus....
Konsep pemahaman seperti itu telah menimbulkan persoalan di dalam gereja, sebab anggota jemaat di Efesus terdiri dari bukan saja orang-orang Yahudi melainkan juga orang-orang non Yahudi. Selain menimbulkan kebingungan, hal ini juga telah memunculkan perselisihan di antara mereka. Itulah sebabnya di dalam surat-suratnya, Rasul Paulus merasa perlu membahas tentang persatuan orang Yahudi dan non Yahudi. Salah satu surat Paulus yang menekankan hal ini adalah surat Efesus. Ada beberapa pokok Pentin yang diuraikan Paulus, yakni:

1. Keadaan dahulu (ayat 11-12)
Ada dinding pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir/non Yahudi. Orang kafir disebut sebagai ‘orang yang tidak bersunat’. ‘Sunat’ adalah tanda lahiriah, namun artinya terlalu dibesar-besarkan oleh orang Yahudi. Penjelasan Paulus dalam ayat 11 menunjukkan bahwa ia tidak mementingkan sunat lahiriah. Yang ia pentingkan adalah ‘sunat hati’ (Rom 2:28,29  Fil 3:2-3  Kol 2:11-13). Juga dikatakan bahwa orang kafir itu, yang tidak termasuk kewar­gaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan yang dijanjikan (ay 12).

Israel disebut ‘dekat’ karena Tuhan memberikan hukum-hukumNya kepada mereka (Maz 147:19-20). ‘Dekat’ dalam ay 17 berbeda dengan ‘dekat’ dalam ay 13. Sekalipun Israel disebut ‘dekat’, tetapi tetap ada dinding pemisah antara mereka dengan Allah. (ingat tabir pemisah antara ruang suci dengan ruang maha suci dalam Bait Allah). Namun orang kafir mempunyai dinding pemisah yang lebih tebal lagi, dan karena itu mereka disebut ‘jauh’. Paulus menyuruh mereka mengingat keadaan mereka yang dahulu (ay 11-12). Ini penting supaya mereka tetap rendah hati dan tetap ingat kasih Allah kepada mereka.

2. Apa yang dilakukan oleh Kristus (ayat 13-18)
Paulus menjelaskan bagaimana Allah telah mendekatkan mereka dengan-Nya dan menjadikan mereka satu umat. Perseteruan Allah dengan mereka dan antara mereka dengan Israel telah dirubuhkan oleh kurban darah Kristus yang tercurah di kayu salib. Perseteruan telah didamaikan. Kristulah kurban damai perseteruan antara manusia dan Allah dan sesama (ayat 14). Tidak hanya tembok pemisah antara manusia dan Allah yang rubuh, tetapi tembok pemisah antara etnis Yahudi dan etnis-etnis non Yahudi pun dihancurkan.

Bagaimana Kristus melakukannya? Paulus menjelaskan tiga hal yang dikerjakan Kristus di kayu salib (ayat 15-16):
1.  Yesus membatalkan hukum Taurat (ayat 15). Selain membatalkan hukum-hukum yang memisahkan Yahudi dan nonYahudi seperti hukum sunat dan makanan halal/haram, Yesus juga membatalkan fungsi Taurat sebagai jalan keselamatan. Tetapi fungsi Taurat sebagai hukum bagi umat Allah tetap berlaku sebagai petunjuk hidup baru.
2. Tuhan Yesus menciptakan satu umat yang baru (ayat 15). Semua etnis Yahudi atau nonYahudi dipersatukan menjadi satu umat di dalam dan oleh Yesus. Namun ini tidak berarti bahwa Yahudi dan non Yahudi bersatu membentuk etnis ketiga atau hilangnya etnis Yahudi dan non Yahudi. Etnis Yahudi tetap Yahudi, etnis non Yahudi tetap non Yahudi. Yang dibatalkan adalah ketidaksetaraan di hadirat Allah.
3.  Yesus mendamaikan etnis Yahudi dan nonYahudi dengan Allah (ayat 16).

3. Keadaan sekarang (ayat 19-22)
Sekarang umat yang telah didamaikan Kristus disebut sebagai kawan sewarga (ayat 19), dan menjadi anggota kerajaan Allah yang hidup di bawah pimpinan dan hukum-hukum Allah. Umat yang didamaikan ini juga disebut keluarga Allah (ayat 19). Sebagai anggota keluarga Allah secara otomatis, relasi antar etnis pun diungkapkan dengan istilah ‘saudara’. Selanjutnya, umat yang didamaikan itu juga disebut sebagai tempat kediaman Allah (ayat 21-22).

Umat yang diperdamaikan itu dilihat sebagai Bait Allah Perjanjian Baru. Penggenap perjanjian Allah itu bukan pada bangunannya tetapi pada persekutuan yang hidup dari anggota keluarga Allah yang didasari oleh pemberitaan janji Allah melalui para nabi PL dan kesaksian para rasul tentang Kristus. Jadi setiap orang kristen adalah batu yang tersusun bagi Bait Allah. Kalau dahulu orang-orang kafir (tidak bersunat) beribadah  dalam Bait Allah secara terpisah (dipisahkan oleh dinding pemisah), maka seka­rang bukan saja tidak ada dinding pemisah, bahkan mereka menjadi batu-batu penyusun Bait Allah.

Ibu-ibu kekasih Kristus....
Dalam suratnya ini, nampak jelas Paulus menekankan pentingnya persatuan di dalam tubuh gereja karena bila gereja terpecah karena perbedaan yang ada, maka hal itu sama sekali tidak berguna. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang di dalamnya tidak ada lagi pembedaan meskipun adanya perbedaan merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Gereja adalah tubuh Kristus. Semua anggota gereja, baik orang Yahudi maupun non Yahudi dipersatukan oleh kasih Kristus dengan darahnya yang kudus. Gereja dipanggil menjadi alat Tuhan yang menyaksikan kasih Kristus di tengah dunia Gereja seharusnya menghargai perbedaan. Paulus melihat dan menggambarkan keragaman sebagai dasar untuk membentuk satu kesatuan. Keragaman dalam jemaat bukan untuk membuat anggota jemaat membandingkan diri satu dengan yang lain, bukan juga untuk menciptakan persaingan dan perpecahan, melainkan membentuk kesatuan yang dianalogikan sebagai satu tubuh Kristus.
Gereja dipanggil menjadi satu. Jangan alergi dengan perbedaan, tapi sebaliknya justru jadikan perbedaan untuk eratkan persatuan. Jangan ciptakan tembok pemisah lagi karena itu sudah dilenyapkan di kayu salib. Jika kita membangun kembali tembok pemisah di dalam gereja, itu sama saja menghina pengorbanan Kristus. Tembok itu adalah perseteruan, pemisahan, permusuhan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi, antara orang yang memegang hukum Taurat dengan orang yang disebut kafir. Sehingga tidak ada DAMAI SEJAHTERA antara keduanya tetapi justru permusuhan.

Dalam perikop di atas kata DAMAI SEJAHTERA diulang sebanyak 5 kali. Damai sejahtera tidak bisa kita peroleh dari manusia atau suatu lembaga yang didirikan manusia. Sebab satu-satunya Sumber damai sejahtera adalah Yesus Kristus. Iblis selalu memasang strategi untuk membangun tembok antara orang tua dan anak agar tidak cocok, antara suami dan istri agar tidak rukun. Tetapi di dalam Yesus tembok itu bisa dirobohkan. Yang jauh menjadi dekat, yang bermusuhan menjadi rukun. Tugas kita adalah meruntuhkan setiap tembok pemisah yang dibangun oleh iblis itu dengan pendamaian dan perdamaian di dalam kasih Kristus.

Karena itu marilah menjadi satu. Hentikan setiap upaya Iblis yang memecah belah kita dengan berbagai perbedaan. Perbedaan akan menjadi anugerah apabila kita menyikapinya dengan kasih dan persekutuan. Mari menjadi satu demi kemuliaan Tuhan. Amin.


Sunday, August 11, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH PKP 13 AGUSTUS 2013




ROMA 2:21-24

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Ketika kita membaca Roma 2:17-24, maka kita akan menemukan kritik Rasul Paulus kepada orang-orang Yahudi yang salah memanfaatkan keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Dari sisi historis/sejarah orang-orang Yahudi dikenal sebagai orang-orang terkemuka yang dipilih Allah sebagai contoh/teladan bagi dunia kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Namun menyedihkan, karena mereka gagal menjadi contoh/teladan bagi dunia orang yahudi. 

Indikator kegagalan itu ditegaskan dalam ayat 21-23. ”Jadi bagaimana engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar ”jangan mencuri” mengapa engkau sendiri mencuri. Engkau yang berkata ”jangan berzinah” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas Hukum Taurat, mengapa engkau menghina Allah dengan melanggar Hukum Taurat itu? Malah dalam ayat 24 ditegaskan bahwa karena kamulah (orang Yahudi) maka nama Allah dihujat diantara bangsa-bangsa. 

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Dalam ayat 21-23 sikap sombong itu disertai kemunafikan. Walau tidak semua orang Yahudi melakukan semua dosa ini, Paulus tahu bahwa kehidupan mereka juga tidak beres. Pada ayat 24 dia mengutip bagian PL yang ditulis untuk Israel yang dihukum oleh pembuangan ke Babel (Yes 52:5 - Tetapi sekarang, apakah lagi urusan-Ku di sini? demikianlah firman TUHAN. Umat-Ku sudah dirampas begitu saja. Mereka yang berkuasa atas dia memegahkan diri, demikianlah firman TUHAN, dan nama-Ku terus dihujat sepanjang hari, bnd. Yeh 36:20 = Di mana saja mereka datang di tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya.) untuk menunjukkan bahwa sejak lama Israel tidak sanggup melakukan Taurat. Orang Yahudi tidak berbeda dari Israel yang dibuang karena dosanya.

Paulus berusaha untuk membuka beberapa fakta yang sebenarnya mengenai orang-orang Yahudi kepada orang orang-orang Kristen bukan Yahudi yang gelisah karena mereka selalu mendengar segala sesuatu yang “katanya’ mengenai orang Yahudi sehingga seolah-olah orang Yahudi menjadi sangat sempurna. Sementara orang Yahudi merasa di atas angin.

Paulus secara terus terang (karena dia juga orang Yahudi) menyatakan “katanya” orang Yahudi mengenai diri mereka:
·         Orang Yahudi berarti Umat Pilihan
·         Bersandar pada Hukum Taurat
·         Bermegah dalam Allah
·         Tahu kehendak Allah
·         Dari Taurat bisa tahu mana yang baik dan yang tidak
·         Penuntun orang buta
·         Terang bagi yang dalam kegelapan
·         Pendidik orang bodoh
·         Pengajar orang yang belum dewasa
·         Memiliki segala kepandaian dan kebenaran

Dan faktanya menurut Paulus:
·         Orang Yahudi mengajar orang lain tetapi tidak mengajar diri sendiri
·         Orang Yahudi bermegah atas hukum Taurat tetapi justru menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat
·         Orang Yahudi sendiri yang membuat nama Allah dihujat oleh bangsa- bangsa lain.

Jadi, ketika jemaat menyombongkan diri seakan-akan berbagi dalam keunggulan Kristus, dia sebenarnya menempatkan diri dengan Israel dalam pembuangan, dengan Israel yang hatinya belum diubah oleh Roh Kudus. Sama halnya ketika jemaat menghakimi orang lain, sedangkan hidupnya sendiri tidak beres. Akibatnya sekarang mungkin juga sama dengan apa kata Paulus pada ayat 24, yakni nama Allah dihujat oleh karena kesombongan dan kemunafikan itu.

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Sebenarnya kritik yang dihadapkan Rasul Paulus, terkait dengan lingkungan hidup ke-Yahudian, justru menjadi bahan pembelajaran bagi kita, untuk tidak mencontohi gaya hidup yang duniawi. Dan sebetulnya kenyataan yang dibeberkan oleh Rasul Paulus, memberi indikasi terjadinya kesenjangan antara ibadah ritual dengan ibadah sosial, dalam artian bahwa orang memahami ibadah ritual di gereja, ibadah sektor dan wadah-wadah kategorial yang justru dipahami terkait dengan urusan sorgawi yang tidak punya keterkaitan dengan ibadah sosial yaitu kehidupan sehari-hari ditengah keluarga, gereja dan masyarakat.

Karena itu sebagai persekutuan hidup yang terkecil yakni Keluarga, kita diingatkan untuk membangun hidup yang saling peduli, saling memperhatikan, antar suami-istri, orang tua dan anak agar kata dan perbuatan hidup kita dalam keseharian mencerminkan sikap hidup yang takut akan Tuhan, yang berjalan menurut firmanNya. Dengan maksud bahwa ibadah ritual yang khusyuk di tempat ibadah, menjadi nyata dalam perilaku hidup kita sesehari. Hidup Kristiani yang selalu berupaya jauh dari penyimpangan terhadap kebenaran firmanNya yang menuntun kita kepada kebenaran.

Ibu-ibu kekasih Kristus,...
Mungkin kita tidak dapat menjadi wanita atau pria yang sempurna, mungkin kita tidak pernah bisa menjadi ayah atau ibu ideal, mungkin kita tidak akan pernah menjadi manusia sempurna, tetapi ada perbedaan antara manusia yang mau berusaha menjadi lebih baik dan manusia yang mengeraskan hati. Jadi kalau memang kita tidak bisa menjadi manusia sempurna paling tidak kita dapat menjadi seorang yang mau terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik sehingga berkat-berkat Tuhan yang tidak terbeli dengan uang akan tetap menjadi bagian kita dengan cara menyeimbangkan kata dengan fakta atau bersedia agar tampilan diri kita selaras dengan tampilan iman kita.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita sebagai ibu-ibu rumah tangga untuk menjadikan hidup kita sebagai wadah Tuhan dimuliakan bukan sebaliknya justru lewat pola hidup yang tidak benar, nama Tuhan dihujat dan dipermalukan orang. Untuk dapat melakukan itu, maka seperti yang Paulus sampaikan, kita wajib bukan hanya mendengar dan memberitakan Firman, namun juga wajib mengerjakannya. Amin.


BAHAN RENUNGAN IBADAH PKB 12 AGUSTUS 2013



ROMA 2:15-16 (sebaiknya dibaca dari ayat 12)

Bapak-bapak kekasih Kristus
Ada perkataan bijak yang berbunyi: Persepsi membentuk kenyataan. Pikiran kita membentuk sudut pandang kita sendiri. Apa yg kita yakini, akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan”. Arti dari kalimat ini adalah apapun yang sudah kita anggap sebagai suatu kebenaran, walaupun sebenarnya itu adalah suatu kesalahan, namun jika tetap diyakini benar maka akan terlihat sebagai kenyataan yang benar. Siapun yang membantah kita dan membuktikan bahwa itu salah, tidak akan dapat kita terima dan terus menganggap bahwa kitalah yang benar.

Kondisi inilah yang dialami oleh jemaat Kristen Yahudi yang berada di Roma. Pada pasal 1:18-32, Paulus menyebut tentang warga non Kristen yang masih menyembah berhala dengan prilaku dosa mereka. Ada macam-macam dosa dan prilaku tidak benar yang didaftarkan Paulus pada pasal 1:25-30. Lebih parahnya lagi, mereka yang tidak percaya pada Yesus Kristus ini tetap hidup dalam dosa dan tidak bertobat. Bahkan mereka justru pula menyetujui perbuatan tidak benar itu jika dilakukan oleh orang lain (1:32).

Selanjutnya, pada pasal 2:1-11, Paulus mengecam orang Kristen Yahudi yang menghakimi orang2 penyembah berhala itu. Mengapa hal itu di kecam Paulus? Orang Yahudi pada zaman itu selalu menganggap diri merekalah yang paling benar dipanding orang kafir atau non-Yahudi. Bahkan dalam Galatia 2:15 kita menemukan pernyataan bahwa selama mereka terlahir Yahudi mereka pasti benar. Inilah yang saya maksudkan dalam pembukaan khotbah tadi. Bahwa perspektif mereka tentang kebenaran membuat mereka meyakini segala hal yang dianggap benar padahal salah. Paulus dengan berani mengecam hal itu.

Kaum Yahudi seakan-akan berhak mengadili dalam hal kebenaran, dan mereka selalu berbuat demikian karena marasa diri benar bahkan paling benar dari yang lain. Ayat 1 ini membuat 3 kali kata menghakimi, Yunani, krinô. Kata ini berarti memberikan penilaian yang tidak menyenangkan berupa mengecam atau mencari kesalahan. Orang Kristen Yahudi di Roma berusaha mencari kesalahan para penyembah berhala itu dari sisi bahwa mereka tidak mengenal hukum Taurat. Karena itu bagi orang Yahudi mereka tetaplah benar sebab mereka mengenal Taurat dengan baik.  Hal ini jelaslah keliru. Sebab Paulus melihat bahwa mereka sendiri yakni orang Kristen Yahudi (ay.3-4) justru melakukan dosa yang sama dengan penyembah berhala, namun merasa tetap benar sebab mereka mengenal Taurat dengan baik

Bapak-bapak kekasih Kristus
Pada bacaan kita inilah yakni mulai ayat 12-16, Paulus menyanggah pemahaman yang keliru tersebut. Ada beberapa uraian penting yang disampaikan Paulus sebagai suatu pengajaran yang berguna bagi kita saat ini mengenai pijakan kebenaran yang keliru dari orang Yahudi, yakni:
1.       Perhatikan ayat 13 pada pasal 2. Paulus menekankan bahwa orang Yahudi tidak diselamatkan karena menjadi pendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Taurat itulah yang akan dibenarkan. Itulah sebabnya pada ayat 6 sebelumnya, Paulus menyebut bahwa Tuhan akan membalas setiap orang berdasarkan perbuatan mereka.

Maksudnya mendengar/mengenal saja tidak cukup namun mereka harus melakukan hukum Taurat secara keseluruhan. Orang Yahudi tidak mendapat hak keistimewaan dengan hanya mendengar/ mengenal hukum Taurat, namun mereka harus melakukannya, sebab pengenalan mereka akan hukum Taurat mengakibatkan penghakiman atas mereka itu didasarkan atas hukum Taurat.

Pemahaman ini sangatlah penting. Bahwa kedekatan dengan Tuhan, rajin membaca dan mendengarkan Taurat tidaklah menjamin seeorang itu menjadi pribadi yang benar. Kebenaran pada model seperti ini lebih tepat disebut dengan kemunafikan. Sebab mereka hanya mendengar dan mengenal Taurat namun tidak mengerjakannya. Firman bukan hanya didengar, melainkan perlu dilakukan. Itulah sebabnya perubahan hidup harus terjadi saat mendengar Taurat. Inilah yang tidak dilalukan oleh orang-orang Yahudi tersebut.

2.       Perhatikan ayat 12 bacaan kita. Oleh karena ukuran kebenaran yang dipakai oleh orang Yahudi adalah ukuran hukum Taurat, maka penghakiman terhadap mereka akan dilakukan menurut kaidah hukum Taurat. Jika hukum Taurat mengatakan dilarang membunuh, namun mereka membunuh; maka mereka disebut sebagai pelanggar hukum Taurat. Itulah sebabnya bahwa mereka akan binasa di dalam tuduhan aturan hukum Taurat atau istilah yang Paulus pakai “dihakimi oleh hukum Taurat”.

3.       Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal hukum Taurat atau yang tidak menggunakan hukum Taurat sebagai landasan ukuran kebenaran mereka? Paulus mengatakan bahwa mereka akan dihakimi tanpa ukuran hukum Taurat. Jika mereka berdosa, maka ukuran ketidak-berdosaan mereka menggunakan standar bukan berdasarkan hukum Taurat.  Lalu ukuran apa yang dipakai? Paulus menyebut dalam ayat 15 bahwa ukuran yang dipakai adalah ukuran “suara hati”.

Istilah Suara Hati, berasal dari bahasa Yunani, Suneidêsis, yang berarti: kesadaran tentang kesusilaan, pengetahuan tentang nilai etis dari suatu perbuatan. Suara hati inilah yang akan menuntun seseorang mengetahui kebenaran. Dalam Keyahudian hanya hukum Tauratlah yang dapat menuntun seseorang mengetahui benar dan salah. Kepatuhan pada hukum Taurat membuat orang hidup dalam kebenaran. Bagaimana dengan mereka yang non-Yahudi yang tidak memiliki Taurat. Mereka ini dituntun oleh suara hati mereka. Suara hati mereka inilah yang menjadi hukum Taurat yang harus mereka taati supaya hidup dalam kebenaran.

Dengan demikian setiap orang yang tidak mengenal hukum Taurat-pun secara naluriah akan dapat menilai perbuatan dan etika mereka, inilah yang dimaksud dalam ayat 14-15 mengenai "dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat". Orang-orang yang bukan yahudi mempunyai patokan internal yang ditempatkan Allah di dalam hati mereka yang disebut dengan suara hati. Patokan internal ini merupakan dasar bagi tanggapan suara hati mereka dan bagi penalaran mereka untuk menilai sesuatu itu benar atau tidak. 

4.       Pada ayat 16 bacaan kita Paulus menutup dengan keyakinannya bahwa Kristus Yesus kelak akan menghakimi segala sesuatu dalam hati yang kita sembunyikan sekalipun. Artinya, Paulus tahu bahwa orang bisa saja mengabaikan suara hatinya untuk tidak melakukan dosa. Orang juga bisa memanipulasi suara hati sendiri dan menetralisirnya supaya tidak merasa berdosa. Orang bahkan bisa membungkamkan suara hatinya supaya dapat leluasa berbuat dosa.

Namun Paulus mengingatkan bahwa apapaun yang berhasil disembunyikan dalam hati, dapat dengan mudah dikatahui Allah yang kemudian menghakimi segala hal yang tersembunyi itu dalam otoritas Hakim Maha Adil yakni Kristus Yesus. Manusia tidak bisa menyembunyikan apapun di hadapan Allah termasuk isi hati mereka.

Bapak-bapak kekasih Kristus
Dari Firman Tuhan ini kita dapat belajar bahwa penghakiman Allah bersifat adil. Orang yang mengeraskan hati tidak mau bertobat akan binasa oleh murka Allah (ayat 5, 8). Orang yang bertobat dan meninggalkan dosa, lalu tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan, dan ketidakbinasaan akan memperoleh hidup kekal (ayat 7). Tekun berbuat baik berarti hidup berpusatkan Allah. Mencari kemuliaan berarti menjaga kesucian yang sudah dianugerahkan Allah. Mencari kehormatan artinya hidup berkenan kepada-Nya. Mencari ketidak-binasaan artinya fokus pada hal-hal yang bernilai kekal. Mencari hal-hal itu bukan dimengerti sebagai usaha untuk memperoleh keselamatan, melainkan sebagai tanda seseorang sudah di dalam kebenaran dan dimerdekakan dari dosa.

Penghakiman Allah tidak membeda-bedakan. Seseorang dihukum bukan berdasarkan status keyahudiannya, memiliki Taurat atau tidak, tetapi berdasarkan disposisi hatinya di hadapan Allah (ayat 12-15). Allah mengetahui isi hati manusia, apakah terbuka kepada Kristus, atau mengeraskan hati untuk menolaknya (ayat 16). Jangan terkecoh dengan penampilan kesalehan yang palsu. Bukti kita sudah memiliki kebenaran adalah hidup dalam kebenaran, peka terhadap dosa, dan tidak menghakimi orang lain.

Saat ini kita harus percaya bahwa Roh Kudus telah mendiami hati kita. Nurani kita dipakai Roh Kudus untuk menggiring kita pada kebenaran Allah. Kita punya kewajiban untuk menuruti suara dalam hati kita sebagai suara hati Roh Kudus. Namun kita perlu berhati-hati bahwa acapkali suara iblis menyerupai suara hati seakan suara Roh Kudus. Ukuran untuk membedakannya sangatlah sederhana, yakni apakah hal itu tindakan yang memuliakan Allah atau tidak. Karena itu, intalah Tuhan untuk selalu hadir di hati kita, agar suara hati kita merupakan suara Tuhan. Amin.

Friday, August 2, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH MINGGU 04 AGUSTUS 2013



KEJADIAN 9:1-7

PENDAHULUAN[1]
Bacaan kita hari ini mengangkat kisah tentang Nuh dan Perjanjian yang dibuat Allah dengannya setelah airbah dinyatakan surut (8:14). Nuh (Ibrani, נֹחַ - NOAKH) adalah anak Lamekh (Ibrani, לֶמֶךְ - LEMEKH), berusia 182 tahun sewaktu Nuh lahir (Kejadian 5:28-29: Lukas 3:36). Asal kata nama  Nuh tidak dapat diselidiki dengan pasti untuk mengetahui arti sebenarnya dari nama itu. Banyak penafsir menghubungkannya dengan arti 'beristirahat. Dalam Kejadian 5:29 nama itu dihubungkan dengan kata kerja נָחַם - NAKHAM yang berarti penghiburan”.

Nuh seorang yang benar (Kejadian 6:9, צַדִּיק - TSADIQ , yang memiliki kebenaran itu yang bersumber dari iman (Ibrani 11:7, της κατα πιστιν δικαιοσυνης - hê kata pistin dikaiosunês, harfilah "kebenaran sesuai dengan iman'), dan mempunyat persekutan dengan Allah, seperti dinyatakan oleh uraian 'dia hidup bergaul dengan Allah' (Kejadian 6:9) Dia juga digambarkan sebagai seorang yang tidak bercela di antara orang-orang sezamannya' (Kejadian 6:9) yang telah terbenam dalam taraf hidup moral yang sangat rendah (Kejadian 6:1-5, 11-13; Matius 24:37-38; Lukas 17:26-27) dan kepada mereka dia memberitakan kebenaran (2 Petrus 2:5), biarpun tidak berhasil seperti ditunjukkan kejadian-kejadian berikutnya.

Seperti Bapak leluhur yg lain, Nuh diberkati umur panjang. Umurnya 500 tahun sewaktu anaknya yang pertama lahir (KejADIAN 5:32), 600 thn sewaktu air bah timbul (Kejadian 7:11), dan meninggal pada usia 950 tahun (Kejadian 9:28, 29). Menurut tafsiran Kejadian 6:3, bersama dengan 1 Petrus 3 :20, sewaktu Nuh berusia 4S0 thn, A Ilah memberitahukan kepadanya, bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari muka bumi, tapi Dia akan memberikan periode anugerah selama 120 tahun. Waktu itu Nuh harus membangun bahtera yang di dalamnya Nuh akan menyelamatkan keluarganya yang terdekat, dan hewan pilihan yg mewakili hewan lainnya (Kejadian 6:13-22). Mungkin sekali pada waktu itulah Nuh berkhotbah, tapi tidak ada pertobatan maka air bah datang dan memusnahkan semuanya, kecuali Nuh dan ketiga anaknya dengan istri masing-masing (Kejadian 7:7; 1 Petrus 3:20).

TELAAH TEKS / TAFSIRAN
Kitab Kejadian 9:1-7 ini berisikan Perjanjian Allah sekaligus perintah kepada Nuh dan keluarganya mengenai apa yang harus mereka kerjakan saat keluar dari Bahtera tersebut. Pertanyaan penting yang perlu diuraikan adalah mengapa TUHAN Allah menyampaikan perintah dan perjanjian tersebut? Ada beberapa alasan yang dapat dimungkinkan untuk itu, yakni:
1.       Dampak kerusakan akibat dari air bah itu sangatlah fatal. Allah merencanakan pemusnahan masal terhadap segala yang hidup di muka bumi waktu itu. Sudah pasti tidak ada kehidupan lagi di bumi pasca akibat airbah yang dasyat itu (7:21-23). Silakan dibayangkan apa yang dialami Nuh bersama keluarganya ketika menyaksikan kepunahan dasyat itu! Sudah pasti secara psikologi dan kemampuan nalar Nuh berada pada titik kritis. Ia mungkin bingung; dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam benak Nuh, mungkin saja terbersit bahwa masa depannya tidak ada lagi seiring musnahnya segala bentuk kehidupan di muka bumi. Kondisi ini juga, secara manusiawi, mempengaruhi iman Nuh dan pengharapannya terhadap masa depan. Apa yang dapat dilakukan dengan “kehampaan” dunia setelah air bah itu? Sesuatu yang tidak dapat dipikirkan.

Di sinilah peran Allah yang luar biasa melalui rahmat dan Kasih KaruniaNya kepada manusia melalui Nuh dan keluargaNya. Dia sangat mengerti kondisi Nuh dan ketakutannya. Tuhan memulihkan harapan Nuh dengan memberikan perjanjian dan penguatan menghadapi dampak dari rencana Allah yang besar itu. Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan memusnakan bumi dengan air bah lagi (ay.18);  bahkan Tuhan menjamin nyawa dan keselamatan Nuh berserta keluarga (ay.5-6) yang juga berarti jaminan masa depan untuknya.

2.       Alasan lain mengapa Tuhan membuat perjanjianNya itu adalah Karena ketaatan Nuh dan ibadahnya. Hal ini tersirat dalam pasal 8:20-22 kitab Kejadian. Pada bagian itu dikisahkah tentang reaksi awal yang dilakukan Nuh ketika meluar dari Bahtera dan menyaksikan kerusakan dan kehancuran tersebut. Reaksi yang dibuat Nuh adalah reaksi yang tidak wajar. Mengapa demikian? Lumrahnya, orang yang melihat kehancuran dan kerusakan termasuk kondisi tiada berpengharapan adalah mengeluh atau bersungut-sungut dan bahkan kehilangan iman dan pengharapan. Silakan bayangkan apabila kita berada pada kondisi Nuh.

Bukannya bersungut atau menyesalkan perbuatan Allah itu, namun sebaliknya di melihat pada dirinya sendiri yang masih sehat dan selamat berserta keluarga karena Tuhan yang menolong. Nuh menemukan alasan untuk bersyukur dari pada melihat alasan di depan mata untuk bersungut. Ia kemudian membuat mezbah dan mempersembahkan korban syukur kepada Allah menggunakan binatang2 yang terbaik dan tidak haram (8:20). Harumnya persembahan Nuh, yang berarti harumnya hati Nuh yang bersyukur, telah “mempengaruhi” dan “menyentuh” hati Allah yang sedang murka pada dunia saat itu. Pada pasal 8:21-22 Tuhan berjanji dalam hatiNya untuk tidak lagi memusnakan dunia ini.

Jadi, kita menemukan alasan kedua mengapa perjanjian itu dibuat Allah. Perjanjian itu dibuat Allah disebabkan karena Nuh dan ketaatannya; serta berdasarkan Kasih Karunia Allah terhadap Nuh dan dunia pasca pemusnahan oleh air bah tersebut.

Selain perjanjian yang Tuhan sampaikan kepada Nuh, Ia juga menyampaikan beberapa perintah penting pasca airbah itu kepada Nuh dan keluarga. Perintah tersebut adalah sbb:
1.      Beranak-cucu; bertambah banyak dan penuhilah bumi (ay.1,7)
Perintah ini adalah perintah kepada Adam dan Hawa saat dunia diciptakan (Kej. 1:28). Mengapa perintah yang sama disampaikan juga kepada Nuh? Pada saat dunia diciptakan, Tuhan menjadikan Adam dan Hawa sebagai kawan sekerjaNya untuk mengkondisikan hasil ciptaan agar sesuai dengan rencanaNya. Adam dan Hawa dipercayakan untuk mengatur dan menata bumi dan segala isinya hasil ciptaan Tuhan. Bukan saja itu, kepada Adam dan Hawa dipercayakan “membuat banyak” gambar dan rupa Allah yakni manusia itu. Inilah kondisi yang juga sama dialami oleh Nuh.

Tidak ada kehidupan lagi dibumi. Semua gambar dan rupa Allah (ay.6) telah musnah atau dimusnakan Allah. Bisa saja Tuhan membuat banyak Adam dan Hawa; dan bisa juga Ia “mencetak” lagi gambar dan rupanya lewat menghadirkan secara tiba-tiba manusia-manusia lain untuk memenuhi bumi pada jaman Nuh saat airbah usai. Lalu mengapa Tuhan tidak melakukannya? Mengapa Adam dan Nuh diberikan perintah seperti itu? Lalu mengapa perintah Adam dan Nuh sama persis?

Wajar jika perintah kepada Adam diserahkan kepada Nuh. Sungguh tepatlah jika Nuh mengambil alih perintah Adam. Sebab kondisi pasca penciptaan hampir sama dengan kondisi pasca air bah. Manusia musnah! Hanya delapan orang yang selamat. Nuh sekeluarga mendapat mandat Adam untuk menjadi kawan sekerja Allah melahirkan manusia-manusia untuk hadirkan gambar dan rupa Allah di bumi ini. Perhatikanlah bahwa hal ini sangat penting. Ini bukan soal “mencetak foto copy” manusia yang instan menjadi banyak. Hal ini menyangkut proses yang panjang.

Nuh bukan hanya diperintahkan beranak cucu yang banyak untuk penuhi bumi, namun Nuh diperintahkan untuk menghadirkan gambar dan rupa Allah agar terserak dibumi. Ini tidaklah mudah. Allah menganggap Nuh sebagai pribadi yang benar (7:1) yang adalah tipe dari rupa dan gambar Allah. Maka beranak-cucu dan bertambah banyak pada perintah ini bukan hanya melahirkan keturunan dari generasi ke generasi, melainkan Nuh dianugerahi dan dipercayakan tugas mulia yakni meneruskan tabiat; pola hidup dan karakternya yang benar itu dari generasi ke generasi.

Dari keluarga Nuh diharapkan lahir pribadi-badi yang benar juga seperti Nuh. Ini sebuah proses yang tidak mudah. Nuh bukan hanya asal saja menghadirkan turunan, namun kepadanya diberikan mandat tersirat agar mendidik; membimbing turunannya bukan sekedar banyak namun menjadi pribadi yang benar agar terlihat gambar dan rupa Allah.

2.      Manfaatkan dan berkuasalah atas mahkluk di bumi (ay.2.3)
Seperti pada Adam, Nuh juga mendapat kuasa untuk segala ciptaan yang ada yakni hewan dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini bukan hanya soal memanfaatkan apa yang ada dan berkuasa atasnya. Namun perintah ini mengandung kewajiban mulia bahwa Nuh menjadi tangan Tuhan untuk turut mengatur keharmonisan ciptaan sebab hanya mereka berdelapan saja yang memiliki akal budi di antara segala mahkluk yang selamat dari air bah itu. Nuh tidak hanya dilihat Allah sebagai pribadi diselamatkan, namun juga sebagai pribadi yang bertanggung jawab terhadap yang telah diselamatkan. Nuh bukan hanya sekedar objek keselamatan, namun dia juga harus menjadi alat untuk mengolah keselamatan itu menjadi tertata dengan baik dan berlangsung terus.

3.      Ketentuan makanan (ay.4)
Kebebasan Nuh dan kuasa yang diberikan kepadanya oleh Tuhan bukan berarti menjadi “tuhan kecil” yang bebas dari segala aturan. Nuh tetap tunduk kepada ketentuan dan aturan Allah, salah satunya tentang aturan makanan baginya. Hal ini menunjuk tentang hak dan kewajiban Nuh yang musti seimbang dilakukannya sebagai pribadi yang dibenarkan Allah. Tuhan tidak hanya bicara soal HAK namun juga menekankan KEWAJIBAN kepada Nuh sebagai wujud pribadi yang diselamatkan.

APLIKASI DAN RELEVANSI
Silakan dihubungkan uraian2 di atas dalam kehidupan sehari-hari menyangkut: Harapan selalu ada; menjadi kawan sekerja Allah; pemanfaatan sumber daya alam; keseimbangan antara hak dan kewajiban, dll,


[1] Emsiklopedi Alkitab Masa Kini-Jilid II. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995), halaman 171-173.

SURAT KECIL UNTUK PARA PELAYAN YANG MULAI LELAH DAN REDUP

  SURAT KECIL UNTUK PELAYAN YANG MULAI LEL AH DAN REDUP “Tuhan, cukup ya… saya lelah.” (1 Raja-raja 19:1–18) Ada masa ketika seorang pelayan...